TEORI PERILAKU PRODUSEN DALAM ILMU EKONOMI ISLAM
0
Disusun
Oleh :
1. Amanda
Erica Prakasiwi (E2A015023)
2. Fransiska
Novita Maria Santika (E2A015022)
3. Mery
Avita Candravoni (E2B015021)
4. Devi
Ima Zeni Lestari (E2B015023)
FAKULTAS
EKONOMI
UNIVERSITAS
MUHAMMADIYAH SEMARANG
2016/2017
KATA PENGANTAR
Puji syukur kehadirat Allah SWT yang telah
memberikan rahmat serta karunia-Nya kepada kami, sehingga kami dapat
menyelesaikannya tepat pada waktunya. Adapun tujuan penulisan makalah ini
adalah untuk memenuhi tugas EKONOMI ISLAM
dengan judul “TEORI PERILAKU PRODUSEN“ UNIVERSITAS MUHAMMADIYAH SEMARANG.
Harapan kami, semoga makalah ini dapat memberi
manfaat bagi teman- teman sekalian. Kami
menyadari bahwa makalah yang kami susun ini masih jauh dari kata sempurna, oleh
karena itu kritik dan saran dari semua pihak yang bersifat membangun selalu
kami harapkan demi kesempurnaan makalah kami ini.
Akhir kata, kami sampaikan terima kasih kepada
semua pihak yang telah berperan serta dalam penyusunan makalah ini dari awal
sampai akhir. Semoga Allah SWT senantiasa meridhai segala usaha kita. Amin.
Tim Penulis
DAFTAR ISI
Kata Pengantar…………………………………………………………………..
Daftar Isi………………………………………………………………………...
BAB I :
PENDAHULUAN…………………………………………….
1.1 Latar Belakang Masalah…………………………………….
1.2 Rumusan Masalah…………………………………………..
1.3 Tujuan Penulisan……………………………………………
BAB II : PEMBAHASAN……………………………………………...
2.1
Pengertian produksi………………………………………...
2.2 Tujuan
dari produksi……………………………………….
2.3 Motivasi produsen dalam produksi……..……………………………………………..
2,4
Formulasi Mashlahah bagi produsen……………………...
2.5 Penurunan kurva
penawaran dan nilai-nilai islam dalam
produksi …...........................................................................
BAB
III : PENUTUP
3.1
Kesimpulan…………………………………………………
3.2
Saran………………………………………………………..
Daftar Pustaka………………………………………………………………….
PENDAHULUAN
·
Latar Belakang
Pada
bab ini akan membahas perilaku produsen, meliputi motivasi dan tujuannya dalam
berproduksi, perilaku yang berkaitan dengan upaya meraih mashlahah, hingga
prinsip dan nilai yang harus dipeganggnya. Perilaku produsen ini kemudian akan
menjadi dasar kurva penawaran di pasar. Pemaparan kegiatan produksi pada masa
Rasullulah SAW. Serta sejarah kegiatan produksi menurut al –Quran akan
melengkapi pembahasan perilaku produsen dalam bab ini. Konsumen akan mengalokasikan anggaran yang di milikinya
sedemikian rupa untuk mengkonsumsi barang dan jasa yang dapat menciptakan
mashlahah secara maksimal. Dengan memperoleh mashlahah yang maksimal di
harapkan konsumen akhirnya dapat memperoleh falah, yaitu kehidupan bahagia di
dunia dan akhirat.Dari usaha untuk memaksimalkan mashlahah ini kemudian bisa didapatkan fungsi
dan kurva permintaan.
·
Rumusan Masalah
1.
Apakah pengertian produksi menurut islam
?
2.
Apa tujuan dari produksi menurut islam ?
3.
Apa Motivasi produsen berproduksi ?
4.
Bagaimana formulasi mashlahah bagi produsen ?
5.
Bagaimana penurunan kurva penawaran dan nilai-nilai islam dalam islam ?
·
Tujuan penulisan
1. Mengetahui
pengertian produksi menurut islam
2. Mengetahui
tujuan dari produksi menurut islam
3. Mengetahui
Motivasi produsen berproduksi
4. Mengetahui
formulasi mashlahah bagi produsen
5. Mengetahui
bagaimana penurunan kurva penawaran dan nilai-nilai islam dalam islam
PEMBAHASAN
Teori
Perilaku Produsen
A. Pengertian
dan Ruang Lingkup Produksi Menurut Islam
Produksi adalah kegiatan
manusia untuk menghasilkan barang dan jasa yang kemudian dimanfaatkan oleh
konsumen. Pada saat kebutuhan manusia masih sederhana dan sedikit, kegiatan
produksi dan konsumsi sering kali dilakukan oleh seseorang sendiri. Seseorangg
memproduksi sendiri barang dan jasa yang dikonsumsinya. Seiring dengan semakin
beragamnya kebutuhan konsumsi dan keterbatasan sumber daya yang ada (termasuk
kemampuannya), maka seseorang tidak dapat lagi menciptakan sendiri barang dan
jasa yang dibutuhkannya, tetapi memperoleh dari pihak lain yang mampu
menghasilkannya. Untuk memperoleh efisiensi dan meningkatkan produktivitas,
muncullah spesialisasi dalam produksi. Saat ini hampir tidak ada orang yang
mampu mencukupi sendiri kebutuhan konsumsinya. Beberapa ahli ekonomi Islam
memberikan definisi yang berbeda mengenai pengertian produksi, meskipun
substansinya sama. Berikut ini beberapa pengertian produksi menurut para ekonom
Muslim kontemporer.
1. Kahf
(1992) mendefinisikan kegiatan produksi dalam perspektif Islam sebagai usaha
manusia untuk memperbaiki tidak hanya kondisi fisik materialnya, tetapi juga
moralitas, sebagai sarana untuk mencapai tujuan hidup sebagaimana digariskan
dalam agama islam, yaitu kebahagiaan dunia akhirat.
2. Mannan
(1992) menekankan pentingnya motif
altruisme bagi produsen yang islami sehingga ia menyikapi dengan hati-hati
konsep Parreto Optimality dan Given Demand Hypotesis yang banyak dijadikan
sebagai konsep dasar produksi dalam ekonomi konvensional.
3. Rohman
(1995) menekankan pentingnya keadilan dan kemerataan produksi (distribusi
produksi secara merata)
4. Ul
haq (1996) menyatakan bahwa tujuan dari produksi adalah memenuhi kebutuhan
barang dan jasa yang merupakan fardlu kifayah yaitu kebutuhan yang bagi
banyak orang pemenuhannya bersifat wajib.Siddiqi (1992) mendefinisikan kegiatan
produksi sebagai penyediaan barang dan jasa dengan memperhatikan nilai keadilan
dan kebijakan/kemanfaatan bagi masyarakat. Dalam pandangannya, sepanjang
produsen telah bertindak adil dan membawa kebajikan bagi masyarakat maka ia
telah bertindak islami.
B.
Tujuan Produksi
Sebagaimana
telah di kemukakan ,kegiatan produksi merupakan respon terhadap kegiatan konsumsi,atau sebaliknya. Misalnya,dalam
konsumsi kita dilarang untuk memakan atau meminum barang –barang yang haram,seperti
alcohol,babi,bangkai,binatang yang tidak disembelih atas nama Allah,dan
binatang buas. seorang konsumen yang berperilaku Islami juga tidak boleh
melakukan
israf
(berlebih-lebihan),tetapi hendaknya konsumsi dilakukan dalam takaran yang
moderat. Perilaku konsumen yang seperti ini tentu akan sulit terwujud apabila
kegiatan produksinya tidak sejalan. Dalam situasi seperti ini implementasi
perilaku konsumsi yang islami sulit direalisasikan. Jadi perilaku produsen
harus sepenuhnya sejalan dengan perilaku konsumen.
Gambar
6.1
Tujuan kegiatan
produksi adalah meningkatkan kemashlahatan yang diwujudkan dalam bentuk :
1. pemenuhan kebutuhan manusia pada tingkatan
moderat,
2. menemukan kebutuhan masyarakat dan
pemenuhannya,
3. menyiapkan persediaan barang / jasa di masa
depan ,
4. pemenuhan sarana bagi kegiatan sosial dan
ibadah kepada Allah.
C.
Motivasi Produsen dalam Berproduksi
motivasi
utama bagi produsen adalah mencari keuntungan material (uang) secara maksimal
dalam ekonomi konvensional sangatlah dominan,meskipun kemungkinan juga masih
terdapat motivasi lainnya. Produsen adalah seorang profit seeker sekaligus
profit maximizer. Strategi, konsep, teknik produksi semuanya diarahkan untuk
mencapai keuntungan maksimum, baik dalam jangka pendek atau jangka panjang.
Milton friedman seorang nobel laureate di bidang ekonomi menunjukan bahwa
satu-satunya fungsi dunia usaha adalah melakukan aktivitas yang ditunjukan
untuk meningkatkan keuntungan .
Isu
penting yang berkembang menyertai motivasi produsen adalah masalah etika dan
tanggung jawab social produsen. Keuntungan maksimal telah menjadi sebuah
insentif yang teramat kuat bagi produsen untuk melaksanakan produksi. Akibatnya,motivasi
untuk mencari keuntungan maksimal sering kali menyebabkan produsen mengabaikan
etika dan tanggung jawab sosilanya,meskipun mungkin tidak melakukan pelanggaran
hukum formal. Contoh skala
internasional adalah adanya masalah etika yang serius ketika
Negara-negara maju mengimpor kayu dalam jumlah besar yang merupakan hasil
curian dari hutan nagara-negara seperti Brazil dan Indonesia, tuntutan dan protes yang di ajukan oleh negar penghasil
kayu terbesar di dunia (Brazil & Indonesia) kepada nagara-negara yang
tergabung daklam G-8 agar membuat legislasi yang melarang warganya
untuk tidak memgimpor kayu tersebut tidak di respon positif .Tindakan tersebut
tentu sangat merugikan Negara-negara penghasil kayu,oleh karenanya hal tersebut
merupakan pelanggaran etika yang amat serius.
Motivasi
produsen untuk memaksimalkan keuntungan sering kali murugikan pihak
lain,sekaligus dirinya
sendiri.dalam pandangan ekonomi islam,motivasi produsen semestinya sejalan
dengan tujuan produksi dan tujuan kehidupan produsen itu sendiri. Jika tujuan
produksi adalah menyediakan kebutuhan material dan spiritual,maka motivaasi
produsen tentu saja mencari mashlahah.Mencari keuntungan melalui produksi dan
kegiatan bisnis lain memang tidak di larang ,sepanjang berada dalam bingkai tujuan
dan hukum islam.
1.keuntungan ,kerja,dan tawakal
Keuntungan
bagi kegiatan produksi dalam ekonomi islam tidak perlu disangsikan lagi,dalam
ajaran islam bersikap sangat positif dan proaktif terhadap upaya manusia untuk
mencari keuntungan sepanjangan cara yang dilakukan tidak melanggar
syariat.Mencari keuntungan murupakan konsekuensi dari aktifitas kerja yang di
lakukan seseorang,sementara keuntungan sendiri merupakan rezeki yang di berikan
oleh Allah kepada hambanya.Kerja merupakan sarana untuk penghidupan
serta untuk mensyukuri nikmat Allah yang di berikan kepada hambanya.Dengan
kerja maka seseorang dapat memperoleh hak yang sah sehingga orang lain tidak
dapat mengganggu haknya.Sebagian orang bersikap pasif (diam) dalam bekerja
dengan alasan bertawakal (berserah diri) kepada Allah.Keadaan seseorang tidak
akan berubah jika manusia itu sendiri tidak berusaha untuk merubahnya sendiri.
2.Kegiatan
produksi pada Masa Rasulullah Muhammad Saw
Masyarakat
Islam pada dasarnya adalah masyarakat produktif,sebagaimana telah di tunjukan
dalam sejarah industri pada masa Rasulullah.Menurut Abul hasan bin mas’ud al
khuza’ie al andalusiy di dalam bukunya bahwa pada masa Rasulullah terdapat
kurang lebih 178 usaha industri dan bisnis barang dan jasa yang menggerakkan
perekonomian masyarakat pada masa itu.Di antara berbagai industri tersebut
,terdapat 12 macam yang menonjol,yaitu:
-Pembuatan senjata & usaha dari besi -Perusahaaan kayu & bangunan
-Perusahaan tenun
–tenunan -Perusahaan
merian dari kayu
-Perusahaan perhiasan &
kosmetik -Arsitektur
perumahan
-Perusahaan alat
timbangan &sejenisnya -Pembuatan
alat-alat berburu
-Perusahaan perkapalan -Pekerjaaankedokteran
& kebidanan
-Usaha penerjemahan
buku -Usaha
kesenian & kebudayaan lainya
Kegiatan
yang produktif merupakan suatu bentuk ketaatan pada perintah Allah.Tujuannya
dari syariat islam adalah mashlahah al ibad yang memberi manfaat bagi
umat.
D.Formulasi Mashlahah
bagi produsen
Mashlahah terdiri dari komponen,yaitu
manfaat (fisik&non fisik) dan berkah.Dalam lingkup produsen/perusahaan
mereka akan perhatian pada keuntungan(profit) yang dapat berupa keuntungan
material yang selanjutnya dapat di manfaatkan lagi seperti mashlahah fisik
,intelektual,maupun social.
Rumusan mashlahah yang
menjadi perhatian produsen adalah:
Mashlahah (M) = keuntungan (π) + berkah (B) (6.1)
Keuntngan (π) = TR
(pendapatan total/ total revenue) – TC (biaya total/total cost) (6.2)
B
(berkah) = BR (berkah revenue/ berkah yang di terima secara langsung) -
BC(berkah cost/biaya untuk mendapatkan berkah)= -BC
dari persamaan 6.1 maka M = TR – TC – BC (6.3)
Adanya
biaya untuk mencari berkah (BC) tentu akan membawa implikasi terhadap harga
jual barang dan jasa yang dihasilkan produsen.Harga jual produk adalah harga
yang telah mengakomodasi pengeluaran berkah,yaitu: BP= P + BC
Dengan
demikian, rumusan mashlahah yang di ekspresikan dalam persamaan 6.3 akan
berubah menjadi : M= BTR- TC
–BC
Dengan
pendekatan kalkulus terhadap persamaan di atas ,maka di temukan pedoman yang
bisa digunakan oleh produsen dalam memaksimumkan mashlahah atau optimum
mashlahah condition (OMC) yaitu :
BP
dQ = dTC+dBC (6.4)
Jadi
optimum mashlahah condition dari persamaan (6.4) di atas menyatakan bahwasanya
mashlahah akan maksimum jika dan hanya jika nilai dari unit terakhir yang di
produksi (BPdQ) sama dengan perubahan (tambahan) yang terjadi pada
biaya total (dTR) dan pengeluaran berkah total (dBC) pada unit terakhir yang di
produksi. Jika nilai dari unit terakhir yang diproduksi (BPdQ) masih
lebih besar dari pengeluarannya, dTC + dBC ,maka produsen akan mempunyai
dorongan (incentive) untuk menambah jumlah produksi lagi.Hanya jika nilai unit
terakhir hanya pas untuk membayar kompensasi yang dikeluarkan dalam rangka
memproduksi unit tersebut,dTC + dBC
,maka tidak akan ada lagi dorongan bagi produsen untuk menambah produksi lagi.
Dalam kondisi demikian produsen dikatakan berada pada posisi keseimbangan
(aquilibrium) atau optimum.
E.Penurunana
kurva penawaran
Kurva penurunan adalah kurva yang mununjukan
hubungan antara tingkat harga dengan jumlah produk yang ditawarkan oleh
produsen.kurva akan menunjukan respons produsen dalam memasok outputnya
terhadap perkembangan harga produk di pasar.
Tabel 6.1
Maksimisasi
Mashlahah Produsen
(Diasumsikan
Harga 171 )
|
Q
|
dQ
|
BP
|
TC
|
dTC
|
BC
|
dBC
|
BPdQ
|
dTC+dBC
|
|
1
|
1
|
171
|
140
|
-
|
18
|
-
|
171
|
-
|
|
2
|
1
|
171
|
145
|
145
|
20
|
20
|
171
|
165
|
|
3
|
1
|
171
|
291
|
146
|
41
|
21
|
171
|
167
|
|
4
|
1
|
171
|
293
|
147
|
43
|
22
|
171
|
169
|
|
5
|
1
|
171
|
295
|
148
|
45
|
23
|
171
|
171
|
|
6
|
1
|
171
|
297
|
149
|
47
|
24
|
171
|
173
|
|
7
|
1
|
171
|
299
|
150
|
49
|
25
|
171
|
175
|
|
8
|
1
|
171
|
301
|
151
|
51
|
26
|
171
|
177
|
|
9
|
1
|
171
|
303
|
152
|
53
|
27
|
171
|
179
|
|
10
|
1
|
171
|
305
|
153
|
55
|
28
|
171
|
181
|
|
11
|
1
|
171
|
307
|
154
|
57
|
29
|
171
|
183
|
Ket
:
Q : unit yang di produuksi
dQ : tambahan jumlah yang di
produksi
BP : harga jual unit yang
di produksi
TC: biaya total produksi
dTC: tambahan biaya bagi unit
terakhir
BC: pengeluaran untuk memperoleh
berkah
dBC :tambaha pengeluaran untuk
memperoleh berkah
|
Q
|
dQ
|
BP
|
TC
|
dTC
|
BC
|
dBC
|
BPdQ
|
dTC+dBC
|
|
1
|
1
|
181
|
140
|
0
|
18
|
0
|
181
|
-
|
|
2
|
1
|
181
|
145
|
145
|
20
|
20
|
181
|
165
|
|
3
|
1
|
181
|
291
|
146
|
41
|
21
|
181
|
167
|
|
4
|
1
|
181
|
293
|
147
|
43
|
22
|
181
|
169
|
|
5
|
1
|
181
|
295
|
148
|
45
|
23
|
181
|
171
|
|
6
|
1
|
181
|
297
|
149
|
47
|
24
|
181
|
173
|
|
7
|
1
|
181
|
299
|
150
|
49
|
25
|
181
|
175
|
|
8
|
1
|
181
|
301
|
151
|
51
|
26
|
181
|
177
|
|
9
|
1
|
181
|
303
|
152
|
53
|
27
|
181
|
179
|
|
10
|
1
|
181
|
305
|
153
|
55
|
28
|
181
|
181
|
|
11
|
1
|
181
|
307
|
154
|
57
|
29
|
181
|
183
|
|
Jika harga naik,ceteris
paribus,maka jumlah barang yang akan diproduksi dan ditawarkan ke pasar
akan naik,demikian pula sebaliknya.
|
F.Nilai-nilai
Islam dalam produksi
Upaya produsen untuk memperoleh mashlahah
yang maksimum dapat terwujud apabila produsen mengaplikasikan nilai-nilai
islam.Metwally (1992) mengatakan ,”perbedaan dari perusahaan–perusahaan non
islam tak hany pada tujuannya,tetapi juga pada kebijakan-kebijakan ekonomi dan
strategi pasarnya. Nilai-nilai Islam yang relevan dengan produksi dikembangkan
dari tiga nilai utama dalam ekonomi islam,yaitu :khalifah ,adil ,dan
tafakur.Secara rinci meliputi:
1.berwawasan
jangka panjang 4.adil
dalam bertransaksi
2.menghormati
hak orang lain 5.memiliki
wawasan sosial
3.memuliakan
prestasi/produktivitas 6.dan
lain-lain
Penerapan
niali-nilai tersebut dalam produksi tidak saja akan mendatangka keuntungan bagi
produsen,tetapi sekaligus akan mendatangkan berkah.Dengan cara ini produsen
akan memperoleh kebahagiaan hakiki,yaitu di dinia dan juga di akhirat.
PENUTUP
·
KESIMPULAN
Produksi adalah kegiatan
manusia untuk menghasilkan barang dan jasa yang kemudian dimanfaatkan oleh
konsumen.Saat kebutuhan manusia masih sederhana dan sedikit, kegiatan produksi
dan konsumsi sering kali dilakukan oleh seseorang sendiri, seiring dengan
semakin beragamnya kebutuhan konsumsi dan keterbatasan sumber daya yang ada
(termasuk kemampuannya), maka seseorang tidak dapat lagi menciptakan sendiri
barang dan jasa yang dibutuhkannya, tetapi memperoleh dari pihak lain yang
mampu menghasilkannya.

0 komentar: